Aku membunuh adikku

Tuesday, July 19, 2011 at 10:55am

Menjadi anak tunggal merupakan kebahagiaan yang luar biasa bagiku. Aku ingat sejak aku bayi hingga berumur sepuluh tahun, aku selalu menjadi pusat perhatian di rumah. Apapun yang aku lakukan entah itu mengompol, membuang-buang makanan, mengotori rumah, pipis di sofa, bahkan merusak barang-barang berharga milik ayah dan ibuku, aku tidak pernah dimarahi, bahkan ayah dan ibuku selalu tertawa melihat semua tingkahku. Aku berpikir, inilah kado terindah dari Tuhan dalam hidupku. Aku disayangi secara luar biasa oleh ayah dan ibuku.

Aku ingat, sewaktu aku kecil ayah dan ibuku sering membawaku ke sebuah taman yang sangat indah. Kami piknik di sana. Ibu selalu membuatkanku kue yang sangat enak, yang bahkan ayahku tidak boleh mencicipinya kalau tidak kuijinkan.“Itu buat anakmu, bukan untukmu” begitu Ibu selalu bilang tiap kali ayah mencoba mengambil kue coklatku.

Tapi semua keindahan itu tiba-tiba sirna.  Aku ingat suatu kali dalam piknik kami, ibu tiba-tiba mengeluh pusing dan mual. Aku tidak mengerti waktu itu. Waktu itu aku baru berusia sembilan tahun dan ayah bilang kalau aku akan segera mempunyai adik. Kata ayah ibu hamil dan di dalam perutnya ada adikku. Ah, aku tidak pernah ingin punya adik. Aku tidak rela kue coklatku harus kubagi dengan adikku. Tapi apa yang bisa kulakukan? Aku hanya anak kecil berumur sembilan tahun. Aku cuma ingin ibuku segera sehat, tidak sering pusing dan mual lagi. Kasian ibu. Kata ayah, ibu akan berhenti pusing dan mual jika adikku yang di dalam perut ibu sudah keluar. Baiklah kalau begitu, cepatlah keluar hai adik, jangan terus sakiti ibuku.

Akhirnya saat yang ditunggu tiba. Ibu melahirkan adikku. Waktu itu umurku sepuluh tahun. Adikku berkulit putih kemerahan dan terlihat sangat lemah. Apa yang kutakutkan benar-benar terjadi sekarang. Tiba-tiba aku kehilangan perhatian dari ayah dan ibuku. Sekarang adikku menjadi pusat perhatian di rumah. Aku merasa kesepian. Setiap kali ayah pulang bekerja, pertanyaan yang pertama kali keluar dari mulutnya adalah adik adik dan adik. Gimana adik hari ini? Minum susunya banyak tidak? Cengeng tidak? selalu begitu. Ayah seolah melupakan aku. Aku bahkan dimarahi ketika tidak sengaja menumpahkan segelas susu ke atas sofa. Aku benci adikku. Ini semua gara-gara dia. Dia telah mencuri ayah dan ibuku.

Adikku bertambah besar, begitu juga aku. Walaupun aku tidak begitu menyukai dia, sebagai kakak aku selalu berusaha bersikap baik. Sekarang aku selalu membuat kue coklatku sendiri. Ibu tak pernah lagi membuatkanku kue coklat, karena sekarang kue favoritku itu selalu dibikin untuk adikku. Adikku itu bahkan tak pernah membiarkanku mencicipi kue buatan ibu itu. Dia menghabiskan semuanya sendiri sambil sesekali menyeringai mengolokku. Bagaimanapun dia adikku, aku harus sabar.

Waktu berlalu, aku tidak pernah peduli lagi apakah ibu membuatkanku kue coklat atau tidak. Sekarang aku sudah bekerja. Aku meneruskan usaha ayah. Ya, ayah punya ladang yang sangat luas, dan sekarang setelah aku dewasa akulah yang mengurus ladang dan kebun kami. Aku bekerja dari pagi hingga sore setiap hari. Aku mengolah tanah di ladang kami menjadi sangat subur untuk dapat ditanami. Oya, aku lupa memperkenalkan diri. Namaku Kain, aku sekarang berumur 28 tahun dan adikku bernama Habel, sepuluh tahun lebih muda dariku.

Sepuluh tahun sudah aku mengelola sawah dan ladang keluarga kami. Hasilnya selalu baik. Bahkan aku berani bilang bahwa hasil ladang kami jauh lebih baik dari hasil ladang siapapun dimanapun di dunia ini. Aku mengerjakan semuanya dengan sepenuh hatiku. Waktu itu ayah pernah bilang, jika saatnya tiba, aku harus mempersembahkan hasil ladangku itu kepada Tuhan. Aku bersemangat mendengar itu. Dalam hatiku aku bertekad akan memberikan yang terbaik kepada Tuhan. Aku akan mencangkul lebih dalam lagi supaya tanah kami menjadi gembur, aku tak peduli telapak tanganku lecet dan berdarah sewaktu mencangkul, aku berjanji akan memberikan yang terbaik kepada Tuhanku.

Adikku Habel meneruskan usaha ayah yang lain menggembalakan kambing domba. Dia pemalas. Seringkali dia kedapatan tertidur di bawah pohon sewaktu menggembalakan domba. Kemana-mana dia selalu membawa suling bambunya. Dia membiarkan kambing domba itu makan rumput sementara dia dengan santai bermain suling sampai akhirnya ketiduran. Ibu selalu membelanya tiap kali ayah menegurnya supaya lebih serius menggembalakan kambing domba kami. Ibu bilang dia masih kecil. Masih kecil apanya? Dia sudah 18 tahun. Kumisnya bahkan lebih lebat dari aku!

Terserah dialah, aku ga peduli. Yang ada di kepalaku sekarang adalah bagaimana agar hasil panen nanti bagus dan aku mendapatkan hasil terbaik untuk kupersembahkan kepada Tuhan. Kata ayah, waktunya sebulan lagi. Tepat saat aku akan memanen hasil kerja kerasku selama ini. Aku mau membuat Tuhan bangga akan kerja kerasku. Aku melihat kedua telapak tanganku yang kapalan karena sering mencangkul. Aku tersenyum. Semua kerja keras ini akan terbayar saat Tuhan menyukai persembahanku nanti.

Saat itu akhirnya tiba. Ayah dan Ibu menyuruh aku dan adikku membawa persembahan kami ke atas bukit di belakang rumah. Aku telah bangun dari subuh dan menyiapkan persembahanku. Aku membawa sayur-sayuran dan buah-buahan yang paling segar dan ranum. Aku membawa gandum terbaik yang pernah ada. Aku menatap bangga semua persembahanku itu. Aku telah menghasilkan sayuran dan buah-buahan terbaik yang pernah ada di dunia ini. Semuanya hasil dari kerja keras kedua tanganku ini. Hari ini, aku akan membuat Tuhan tersenyum.

Adikku Habel bangun kesiangan. Dia dibangunkan ibuku yang sejak subuh sudah memilihkan domba yang harus dipersembahkan Habel kepada Tuhan. Adikku itu bahkan tidak tau cara memilih domba yang bagus. Ibuku yang memilihkannya untuk dia. Aku melihat domba itu, domba tambun yang sangat sehat, gemuk, bersih, dan berbulu putih lebat. Cantik sekali domba ini. Ibuku memang pintar memilih ternak yang baik.

Jadi begitulah, aku dan adikku berjalan bersama menuju puncak bukit membawa persembahan kami. Aku membawa sayur dan buah-buahan terbaik hasil kerja kerasku dan Habel membawa seekor domba cantik pilihan ibuku. Aku memanggul semua sayuran itu di bahuku, sementara adikku dengan santai menuntun domba cantik itu dengan seutas tali, yang lagi-lagi telah disiapkan oleh ibu. Ibuku sayang, mengapa kau tidak lagi mencintaiku seperti dulu? Aku juga masih mau merasakan kue coklat buatanmu.

Kami tiba di atas bukit. Aku menaruh semua sayuran dan buah-buahan di atas meja persembahan. Kata ayah kami harus membakar persembahan kami dan Tuhan akan senang menerimanya. Segera setelah semua sayuran dan buah-buahan itu aku taruh di atas meja aku mengambil korek api dan bersiap membakarnya. Namun angin bertiup kencang waktu itu. Tiap kali aku hendak menyalakan api, angin meniup korekku dan memadamkan apinya. Sudah hampir habis korek di tanganku. Sial, angin tidak bersahabat padaku. Aku tidak bisa membakar korban persembahanku.

Aku melirik kepada adikku. Dia menaruh domba cantik itu di atas meja persembahan. Domba itu memang cantik. Habel mengeluarkan pisau tajam dari balik bajunya. “Ya Tuhan, terimalah persembahanku hasil dari kerja kerasku selama ini, hanya untukMu”  begitu adikku berkata seraya menyembelih leher domba cantik itu.

Huh! Kerja keras apa? Dia bahkan tidak pernah becus mengurus domba-domba itu. Kalau saja ibu tidak membantunya, mana mungkin domba-domba itu sehat dan gemuk?

Pada saat itu angin sudah tidak terlalu kencang. Aku melihat adikku mengeluarkan sebotol minyak dari sakunya dan menumpahkannya ke tubuh domba persembahannya itu. Dia melirikku seolah tersenyum mengejek. Seakan-akan berkata, pakai minyak begoo… Dan tak lama, dia berhasil membakar domba cantik itu. “Terimakasih ya Tuhan, Kau menerima kerja kerasku ini. Terpujilah namaMu”

Dia menari-nari, berteriak-teriak, bernyanyi-nyanyi mengelilingi meja persembahannya. Dia bahkan tidak memperdulikanku yang belum berhasil membakar persembahanku. Aku melihat tanganku. Korekku bahkan sudah habis. Aku tak sudi meminjam korek dan minyak adikku. Aku tau pasti dia akan menolak meminjamkannya. Aku sedih, marah, kecewa. Kenapa semua tidak adil kepadaku? Aku bahkan tidak berhasil mempersembahkan hasil kerja kerasku kepada Tuhan yang sangat kucintai itu. Hasil kerja kerasku selama bertahun-tahun yang kuperoleh dengan membekaskan luka di telapak tanganku seakan teronggok sia-sia di atas meja persembahan itu.

Aku melihat adikku terus menari. Aku menangis. Adikku terus bernyanyi-nyanyi seakan mengejek kesialanku. Aku tidak tahan lagi. Sudah cukup! Aku harus mengakhiri semua ini. Aku mengambil cangkul yang biasa kupakai membajak sawah. Aku melihat adikku terus bernyanyi berputar-putar di meja persembahannya. Bau daging terbakar mulai menusuk hidung. Aku mengangkat cangkulku, mengarahkannya ke kepala adikku. BRAAAAK!!! Aku hantam sekuat tenaga cangkul itu ke kepala adikku. “Diamlah!! Aku muak dengan ocehanmu!!”

Aku anak tunggal yang ditinggalkan. Aku Kain. Aku telah membunuh adikku…

Franz Mehring Platz 2, kontemplasi tanpa kloset

 

Pengakuan seorang pelacur

Wednesday, June 29, 2011 at 6:37am

“Anda pasti berpikir saya menjual tubuh saya atau merugikan diri saya sendiri, tapi yang sebenarnya saya telah membeli kejantanan para pria” (Jenny Cortez, Film Pengakuan Seorang Pelacur, MM Creations 2010)

Sama seperti Jenny, dulu saya juga berpikir kalau pelacur adalah pekerjaan yang paling mulia. Saya membantu para pria melepaskan hasrat binatang mereka, mencegah mereka menjadi serigala lapar yang memperkosa setiap betina yang ditemui. Membuat hidup mereka lebih produktif karena melepaskan ketegangan berarti melancarkan peredaran darah dan supply oksigen ke otak. Tapi itu dulu, sebelum saya bertemu pria itu. Pria misterius yang telah mengubahkan hidup saya selamanya.

Siapa nama saya tidaklah penting. Toh sewaktu masih menjadi pelacur nama saya terus berganti setiap malam. Pria-pria hidung belang itu bahkan tak pernah peduli siapa nama saya. Perkenalan nama hanyalah ritual basa basi, karena segera setelah mereka dapatkan apa yang mereka mau, mereka akan langsung melupakan nama saya. Karenanya tidak peduli saya menggunakan nama Cindy, Tania, Susan, Maria, Elena, asal bukan Bambang atau Widodo, dengan rakusnya para lelaki itu akan segera melahap tubuh muda saya. Jadi sekarang terserah kalian saja mau panggil saya siapa. Kalau mau, kalian boleh panggil saya Maria. Sama halnya dengan nama Olga di Rusia, nama Maria sangat umum di kampung saya. Saking banyaknya perempuan bernama Maria, jika kalian secara acak lempar batu ke kerumunan perempuan, batu itu pasti akan mengenai Maria. Sekali lagi, siapa nama saya tidaklah penting, apa yang akan saya ceritakan itulah yang lebih penting.

Saya bertemu pria itu cuma sekali. Sungguh, bukannya saya tidak mau lagi menemui dia. Saya sudah berusaha mencarinya kemana-mana, namun saya tidak pernah bertemu dengannya lagi. Suatu kali saya pernah mendengarnya mengadakan KKR di bukit Zaitun, sengaja saya datang ke sana dari kampung saya yang berjarak 26 kilometer dengan berjalan kaki bermaksud menemui pria yang telah menyelamatkan hidup saya itu. Namun saya mesti menelan kekecewaan karena saya cuma bisa melihatnya dari jarak yang sangat jauh. Kerumunan ribuan orang menghalangi saya mendekatinya. Saya bahkan tak bisa mendengarnya berkhotbah, karena suara ribuan orang di sekitar saya sudah seperti dengung lebah di telinga saya.

Pria misterius itu telah menyelamatkan hidup saya. Dia menghalangi orang-orang munafik itu melempari tubuh saya dengan batu. Ya, waktu itu memang hari sial buat saya. Saya tertangkap basah sedang bekerja di siang hari, di rumah seorang Yahudi kaya yang mengundang saya ke rumahnya karena istrinya sedang pergi keluar kota melayat ayah mertuanya yang meninggal dunia.

Sial memang, baru setengah jam saya berada di rumah pria itu, kami bahkan belum melakukan apa-apa, karena ternyata pria pegawai pajak yang kaya itu sedikit kesulitan membangunkan kejantanannya, tiba-tiba saja istri pria itu kembali ke rumah karena ada barangnya yang ketinggalan. Waktu itu lelaki yang mengundang saya itu sedang bersiap di kamar mandi, sementara saya dengan hanya ditutupi selimut tengah tiduran di ranjang kamarnya, siap memulai pekerjaan mulia saya.

Spontan istri pria itu teriak-teriak seperti orang kesurupan. Dia menampar wajah saya, menjambak rambut saya, dan menyeret saya keluar rumahnya sambil terus teriak histeris memanggil orang-orang untuk datang. Hei, kenapa cuma saya yang dijambak? Saya cuma datang memenuhi undangan suaminya. Mestinya dia juga menampar suaminya. Saya tamu di rumah ini.

Entah bagaimana, tiba-tiba saya sudah dikerumuni banyak sekali orang. Mereka mencaci maki saya, menendang, menampar, dan meludahi saya. Saya sangat ketakutan, saya berpikir hari ini saya pasti mati. Saya ketakutan setengah mati, namun tiba-tiba seorang tua berteriak lantang menyuruh semuanya diam. “Tenang, mari kita bawa pelacur ini ke lelaki dari Nazareth itu. Kita lihat apa yang akan dilakukannya pada perempuan laknat ini.” Hei, saya ingat orang tua ini. Ya saya ingat, dua minggu yang lalu saya bertemu dengannya di pasar. Ya tidak salah lagi, dia salah satu klien saya! Demi dewa matahari, saya ingat lelaki berumur 65 tahun ini pernah meniduri saya. Saya tak pernah bisa melupakan tahi lalat di bawah matanya itu. Dasar munafik! 

Keringat dingin membasahi seluruh tubuh saya waktu kerumunan massa itu mendorong-dorong saya berjalan menuju tengah kota. Saya tidak tau siapa yang mereka maksud dengan lelaki dari Nazareth. Yang saya ingat tiba-tiba saya sudah didorong jatuh ke kaki seorang pria muda yang memiliki tatapan sangat tajam seakan menusuk jantung. Saya tidak berani menatap mata pria itu lama-lama, entah mengapa tiba-tiba saya merasa sangat malu dan kotor. Saya bingung karena selama ini saya tidak pernah kalah beradu tatap dengan pria manapun. Entahlah, mungkin karena waktu itu saya berpikir saya akan segera mati.

“Hei Yesus, kami tau kau orang bijak. Kami menangkap basah pelacur ini berjinah. Menurut hukum, dia harus dilempar sampai mati!” Si lelaki tua berteriak lantang.

Oo ternyata namanya Yesus. Saya menundukkan kepala, tak berani menengoknya. Dari ekor mata saya, saya melihatnya menunduk ke tanah. “Mati saya, dia akan segera mengambil batu dan melempar saya. Saya mati hari ini” Sekonyong-konyong saya bergidik ngeri membayangkan dia melempar tubuh saya. Saya tau, begitu satu orang mulai melempar, maka semua orang akan segera melempari saya. Demi semua lelaki yang pernah meniduri saya, saya tau saya pasti mati hari ini.

Saya memejamkan mata, jika harus mati hari ini, matilah sudah. Sedetik, dua detik, tiga detik, sampai sepuluh detik kemudian tidak ada yang melempar saya. Perlahan saya membuka mata dan dengan ekor mata saya melihat lelaki dari Nazareth itu tengah berjongkok di tanah. Dia diam. Sementara orang-orang mulai kelihatan tidak sabar dan memaksanya berbuat sesuatu.

“Benar, kita harus melempar wanita ini dengan batu sampai mati. Silahkan yang tidak mempunyai dosa melempar terlebih dahulu”, lelaki itu mulai berbicara. “Ayo silahkan dimulai. Yang tidak berdosa ayo lempar perempuan ini dengan batu. Pilih batu yang paling besar dan hantam kepala perempuan ini!”

Saya memejamkan mata lagi. Sudah, inilah saatnya. Tiba-tiba saya teringat kejadian-kejadian yang pernah terjadi dalam hidup saya. Saya teringat ayah dan ibu saya yang mati muda karena kapal yang mereka tumpangi tenggelam di laut. Saya teringat pertama kali saya jatuh cinta pada seorang lelaki yang akhirnya merenggut kegadisan saya kemudian meninggalkan saya dengan wanita lain. Saya teringat bagaimana saya harus membesarkan dan merawat dua orang adik saya yang masih kecil setelah kematian kedua orang tua saya, karena sebagai anak tertua sayalah yang bertanggung jawab atas hidup mereka. Peristiwa-peristiwa itu berkelebatan di dalam pikiran saya. Oh, inilah rasanya mau mati. Saya takut. 

Tapi tidak ada yang terjadi. Perlahan saya memberanikan diri membuka mata. Saya mengangkat kepala dan memandang sekeliling. Pria tua munafik itu sudah tidak terlihat. Orang-orang yang tadinya ramai berkerumun itupun sudah tidak ada. Hei, kemana mereka? Mereka semua pergi. Saya tidak ingat lelaki dari Nazareth itu mengusir mereka. Saya terpana. Sungguh luar biasa pria ini, dengan satu perkataan dia bisa meredam amarah begitu banyak orang. Benarlah kata orang-orang jika dia ini seorang tukang sihir.

Saya tak berani bergerak. Bekas pukulan dan tendangan orang-orang itu masih terasa ngilu di tubuh saya. Lagipula saya takut pada pria dengan tatapan tajam itu. Jangan-jangan dia akan menghantam kepala saya pakai batu. “Kamu boleh pergi sekarang. Cari pekerjaan lain.” Pria itu berbisik di dekat kuping saya. Singkat, namun terasa kuat di dalam hati saya. Entah mengapa saya merasa bahwa pria ini sangat berkuasa, padahal beda umur kami tidaklah terlalu jauh. Dari perawakannya saya menilai dia berusia 30, sementara waktu itu saya berusia 24 tahun. Luar biasa pria ini, dia berusia 30 tapi mempunyai kuasa layaknya Firaun yang berusia 1000 tahun.

Saya bahkan tak sempat mengucapkan terimakasih pada pria itu. Saya berdiri, saya tutupi belahan dada saya yang terbuka karena baju saya robek sewaktu diseret-seret orang banyak tadi. Saya tidak jadi mati hari ini. Seperti katamu, saya akan mencari pekerjaan lain.

Hanielweg 21, kontemplasi tanpa kloset

Pontius Pilatus

Saturday, June 25, 2011 at 9:54am

Ini semua gara-gara Martin Luther orang Jerman itu. Dialah yang bertanggung jawab membawa-bawa nama saya di pengakuan iman orang kristen yang dibacakan tiap minggu. Dia bilang Yesus mati di bawah penghukuman Pontius Pilatus. Jadi seakan-akan sayalah yang membunuh Yesus orang Nazareth itu. Saya tidak tau apa yang ada di pikiran Martin Luther saat menciptakan dogma kristen itu. Padahal mestinya dia belajar teori psikologi massa sebelum mengeluarkan pernyataan. Kalau sudah begini siapa yang rugi? Saya! Semua orang percaya sayalah yang bersalah atas kematian Yesus.

Ditempatkan di Yudea merupakan mimpi buruk buat kami warga Roma. Itulah tempat yang paling kami hindari sebagai pejabat. Untuk apa? Yudea itu wilayah miskin, penduduknya bodoh dan barbar. Tidak ada keuntungan ekonomis apapun bagi saya ditempatkan di Yudea selain jabatan saya naik menjadi Gubernur. Tapi buat apa jadi Gubernur kalau tidak bahagia? Kalau boleh memilih, saya lebih suka tetap tinggal di Roma menjadi PNS biasa daripada mesti ke Yudea menjadi Gubernur. Tapi apa boleh buat, tanpa meminta pendapat saya, tiba-tiba Caesar menandatangani SK mutasi saya ke Yudea sebagai Gubernur Jenderal.

Saya Pontius, pria terhormat dari Roma yang namanya kalian sebut-sebut setiap minggu. Ah, saya bingung lihat orang kristen seperti kalian. Sukanya menghakimi orang lain saja. Padahal Yesus yang kalian sembah itu saja tidak pernah mau menghakimi orang lain. Ah,, sudahlah!

Sebelum ditempatkan sebagai Gubernur di Yudea, saya PNS golongan IV B di Roma. Saya bahkan bukan pejabat eselon. Namun menurut para atasan saya, kerja saya lebih baik dibandingkan para pejabat eselon. Saya menjunjung tinggi kejujuran dan kedisiplinan. Dan taukah kalian? Pantang bagi saya menjilat atasan. Saya akan berkata A jika A dan B jika B. Saya PNS, namun saya menolak menjadi parasit bagi bangsa saya. Yang ada di otak saya adalah bagaimana bekerja dengan benar, jujur, dan disiplin. Saya bahkan tidak pernah membayangkan dipromosikan menjadi kepala ini atau itu. Tidak! Saya bekerja karena saya memang suka bekerja.

Tanpa saya sadari, suatu kali atasan saya menyebut nama saya di hadapan Caesar. Waktu itu ada kekosongan jabatan Gubernur di Yudea, daerah kecil yang tidak menguntungkan secara ekonomi, namun karena alasan politik harus tetap dipertahankan di bawah kekuasaan Roma. Tidak perlu panjang lebar, akhirnya seperti yang kalian semua tau. Saya diangkat oleh Caesar menjadi Gubernur di Yudea. Waktu itu istri saya senang bukan main. Dasar perempuan, dia pikir kalau saya jadi gubernur otomatis uang belanjanya naik? Sori sori sori Jek! Uang belanja tetap sama, tidak perlu naik karena harga barang di Yudea jauh lebih murah ketimbang di Roma. Jadi tanpa perlu dinaikkanpun nilai uang yang saya kasih otomatis meningkat. Maaf sayang, sudah saya bilang saya mau kerja, bukan cari duit!

Kembali soal Yesus yang terpaksa saya salib itu. Sebagai gubernur, tugas utama saya adalah menjaga keamanan dan ketertiban. Waktu itu adalah tahun ke tujuh saya memerintah di Yudea. Soal keamanan domestik sebenarnya tanggung jawab Herodes, Raja Yudea. Tapi dasar si Herodes penjilat. Tiap kali ada masalah dia selalu datang ke saya dan meminta arahan. ”Saya minta petunjuk Bapak Pontius”begitu terus. Sampai-sampai saya tidak bisa membedakan antara Herodes dan Harmoko, keduanya sama-sama hobi jilat pantat.

Waktu itu kira-kira jam 10 pagi. Saya baru saja selesai sarapan di kantor saya. Tiba-tiba seorang ajudan berlari tergopoh-gopoh memberi tau ada keributan di luar gedung. Masyarakat berdemo dan berpotensi terjadi kerusuhan massal. Semua staf ahli saya kumpulkan sebelum menemui kerumunan massa yang mulai beringas itu. Para staf ahli melaporkan, lebih dari seribu orang saat ini berkerumun di luar kantor gubernuran, meminta saya menghukum mati seseorang yang bahkan namanya tidak pernah saya dengar sebelumnya.

“Pak Pontius, massa mulai beringas. Mereka minta Yesus dihukum mati karena telah menghujat Tuhan”Staff ahli saya melaporkan. Saya meminta staf itu membawakan berkas si terpidana. Butuh waktu 30 menit saya membaca berkas pengadilan orang itu, dan saya menemukan dia sama sekali tidak bersalah atas tuduhan orang-orang itu. “Orang ini tidak bersalah, kenapa saya harus menghukum dia?”

Di luar kerumunan orang-orang terus berteriak ”Salibkan dia, salibkan dia” dan beberapa massa mulai melempari kantor gubernuran dengan telur busuk. “Panggil pendeta paling senior di Yudea dan suruh menghadap saya segera” . Saya belajar psikologi massa waktu masih kuliah di Roma, dan saya paham betul kalau di Yudea, orang-orang lebih mendengar apa kata pendetanya dibandingkan apa kata rajanya. Saya pikir, jika saya bisa menghadirkan pendeta yang dihormati orang banyak itu, mereka akan tenang dan tidak berbuat anarkis.

Pendeta tua itu akhirnya datang, tidak perlu waktu lama karena ternyata pendeta yang namanya saya lupa itu dari tadi sudah ada di bawah di antara kerumunan massa. “Syalom Pak Pontius” kata pendeta tua itu. Setelah memperkenalkan diri, dia mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Dia bilang laki-laki bernama Yesus itu telah menghujat Tuhan dan tengah berencana menggerakkan massa untuk menggulingkan Caesar. Saya jelaskan kepada pendeta tua itu, bahwa dari berkas yang saya pelajari, hakim pengadilan tidak menemukan kesalahan apapun dari lelaki itu. Semua tuduhan adalah fitnah keji yang dialamatkan kepadanya.

“Bapak yang menjadi gubernur di sini, jadi semuanya terserah bapak Pontius” kata si pendeta tua.“Tapi saya tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika Bapak melepas laki-laki itu. Saya tidak jamin massa tidak beringas dan tidak rusuh. Pendapat saya, jika Pak Pontius masih ingin menyelamatkan jabatan bapak, lebih baik turuti saja keinginan massa. Ingat pak, vox populi vox dei, suara rakyat adalah suara Tuhan” Si pendeta menceramahi saya.

“Tapi laki-laki itu tidak bersalah” jawab saya. “Lebih baik melepaskan seribu orang bersalah daripada menghukum satu orang yang tidak bersalah!”

Prang!! bunyi kaca jendela pecah mengagetkan saya. Massa mulai beringas dan melempari kantor saya. Dari ujung seorang staf berteriak massa mulai menyiapkan minyak untuk membakar kantor saya. Massa semakin beringas dan gila. Mereka melempari kantor saya tidak lagi dengan telor busuk tapi batu, dan mereka terus mengucapkan takbir memanggil-manggil nama Tuhannya.

“Gila. Ini benar-benar gila! Hei pendeta tua, tolong tenangkan orang-orang ini. Saya tidak mau ada korban nyawa hari ini. Terserah kau saja mau melakukan apa pada laki-laki itu, tapi ingat saya tidak bertanggung jawab atas kematian orang itu”

Si pendeta langsung berjalan tertatih ke arah balkon kantor gubernuran. Di bawah massa terlihat semakin beringas. Ketika mereka melihat pendeta yang mereka hormati mengangkat tangan di atas balkon, mereka mulai tenang. “Kita berhasil, kita akan menyalibkan pria yang telah menghujat Tuhan ini. Syalom Alehim..!!” teriak si pendeta lantang.

Massa bersorak, mereka melompat-lompat kegirangan, ”Syalom Alehim!” teriak mereka.

Saya tidak ikut prosesi lanjutannya. Kepala saya tiba-tiba sakit. Perut saya mual membayangkan bagaimana mereka semua bisa tertawa dan menyebut-nyebut nama Tuhan sementara mereka berencana menghilangkan nyawa manusia.

Saya Pontius Pilatus, Saya mual..

Hanielweg 21, kontemplasi tanpa kloset

Saya tidak gila

Thursday, June 23, 2011 at 10:57am

Saya benci penulis kisah Ayub. Dia menulis cerita soal Ayub tanpa pernah minta klarifikasi dari saya. Seakan-akan saya adalah perempuan paling jahat yang pernah dilahirkan di dunia ini. Ini ga fair! Semua orang menuduh saya jahat tanpa pernah tau apa yang sebenarnya saya rasakan.

Saya istri Ayub!

Ya, sayalah perempuan yang selalu dijelek-jelekkan para pendeta dalam khotbah minggu mereka. Saya tidak menyalahkan para pendeta sok pintar itu, karena mereka cuma omongin apa yang mereka baca di buku Ayub. Saya mau protes penulis buku itu. Tapi saya tidak yakin dia itu siapa. Ada yang bilang Musa ada juga yang bilang Andrea Hirata. Pokoknya saya benci orang itu. Penulis kampung! Mestinya dia minta klarifikasi dari saya sebelum menilai saya atas perbuatan yang saya lakukan. Saya dipojokkan tanpa pernah diberi kesempatan membela diri.

Sayalah istri Ayub yang kalian bilang saleh itu. Saya perempuan yang sudah melahirkan sepuluh anak bagi dia. Kalian pikir merawat dan membesarkan sepuluh orang anak itu gampang? Waktu saya dan Ayub menikah dulu, kami tidak punya apa-apa. Kami bukan orang kaya. Suami saya cerdas, tapi bukan orang kaya. Sayalah yang pertama kali membelikan dia sepasang domba untuk diternakkan. Ya, saya merelakan menjual mas pemberian ibu saya sebagai modal kami membeli domba.

Seperti yang saya bilang, suami saya memang cerdas. Dia benar-benar yahudi yang pintar dagang. Dia juga pelit. Semua dihitung untung ruginya. Selama lima tahun pertama pernikahan kami, kami tak pernah makan daging. Kami hidup prihatin. Suami saya selalu membatasi apa yang boleh kami makan. Boro-boro makan di restoran mewah, minum susupun saya tak pernah. Suami saya selalu bilang, saatnya akan datang kami akan menikmati hasil jerih payah kami. Dan saya selalu sabar menantikan saat itu tiba.

Saya tidak perlu menceritakan lika-liku kehidupan kami yang suram. Kecerdasan suami saya disokong dengan dukungan saya sebagai istri mulai membuahkan hasil. Dalam waktu lima tahun, sepasang domba yang saya beli itu berlipat ganda menjadi 150 ekor. Bukan bukan. Domba kami itu bukan beranak pinak. Tiga bulan setelah saya memberikan Ayub domba, dia menjual domba-domba itu, lantas membeli empat pasang anak domba yang kecil dan mulai menggembalakannya. Begitu seterusnya. Setiap ada kesempatan membeli anak domba dengan harga murah, suami saya lalu menjual induk domba yang besar dan menukarnya dengan anak domba yang lebih banyak.

Tiga puluh tahun saya setia mendampingi suami saya. Usahanya mulai berhasil. Ternak kami semakin banyak dan kami mulai mempekerjakan orang-orang. Kami juga mulai membeli tanah dimana-mana. Kami membangun rumah yang sangat besar. Ya, seperti janji suami saya waktu itu, saat itupun akhirnya tiba. Kami mulai menikmati hasil kerja keras kami. Ayub menjadi besar. Menjadi orang terkaya di seluruh negeri. Dan taukah kalian siapa perempuan dibalik kesuksesan Ayub? Saya! Sayalah perempuan itu, yang bahkan namanya tidak pernah ditulis di kitab Ayub karena dianggap tidak penting! Benarkah saya tidak penting?

Pernahkah kalian berpikir apa yang saya rasakan waktu mengetahui anak-anak saya mati?? Bukan! Saya tidak pernah sedih karena Ayub jatuh miskin. Tidak, karena waktu saya memutuskan menikah dengannya pun dia bukanlah orang kaya. Saya tidak peduli harta kami habis. Bukan itu yang membuat saya bersedih. Kematian anak-anak sayalah yang mendukakan hati saya.

Tidak lama setelah badai dahsyat itu, keluarga saya berkata pada saya bahwa kematian anak-anak saya adalah karena dosa Ayub. Mereka bilang kematian anak-anak saya sebagai korban pesugihan suami saya. Mereka bilang Ayub bersekutu dengan setan untuk memperoleh kekayaaan. Saya tidak percaya itu semua! Semua itu bohong! Saya tidak percaya suami saya tega mengorbankan anak-anaknya untuk memperoleh kekayaan!

Satu hal yang sempat terlintas di otak saya adalah suami saya mempunyai wanita lain. Saya memang tidak pernah memergokinya, tapi feeling saya mengatakan demikian. Sering memang suami saya pergi keluar kota berminggu-minggu dengan alasan berbisnis. Tak jarang, setiap pulang dari luar kota saya mencium bau parfum wanita di pakaiannya. Tapi kecurigaan itupun saya kubur dalam-dalam, karena biar bagaimanapun saya sangat mencintai ayah anak-anak saya itu. Saya mau mempercayainya 100%.

Tapi kemudian apa yang terjadi? Tiba-tiba Tuhan menghukum kami. Dalam satu hari semua harta kami habis diserang perampok. Ribuan ternak kami dijarah dan pekerja-pekerja kami dibunuh. Sedihkah saya? Ya, tentu saya sedih. Tapi saya tidak menyerah. Saya tetap percaya pada suami saya.

Namun musibah ini tak berhenti sampai disitu. Angin topan datang dan menghancurkan rumah kami. Beserta anak-anak saya di dalamnya. Semua anak saya mati tertimpa rumah beton kami. SEMUA! Bisakah kalian bayangkan betapa hancurnya hati seorang ibu melihat anaknya mati mendahului dia? Semua ibu pasti menginginkan dialah yang duluan mati sebelum anaknya, karena sangat menyedihkan bagi seorang ibu meratapi buah susunya sendiri. Itulah yang saya rasakan. Bukan cuma satu, tapi sepuluh anak saya mati pada hari yang sama. Bahkan menaburkan seluruh debu Israel di kepala saya belum cukup menggambarkan betapa besar duka yang saya alami.

Di tengah kesedihan saya dimanakah suami saya? Dia meninggalkan saya. Dia pergi entah kemana dengan seluruh bisul dan borok yang tiba-tiba saja muncul di tubuh terkutuknya itu! Saat itulah entah mengapa saya tiba-tiba percaya apa yang dikatakan keluarga saya. Suami saya dihukum Tuhan karena segala dosanya. Dan saya mulai percaya, dia dihukum Tuhan karena menghianati saya dengan wanita lain.

Seluruh tubuh suami saya ditumbuhi borok bernanah. Benar-benar bau dan menjijikkan! Saya coba menduga dosa sebesar apakah yang telah diperbuat suami saya hingga Tuhan demikian marah dan menghukumnya? Sebagai istri dan ibu yang baru kehilangan, saat itu sebenarnya saya memerlukan suami saya untuk menguatkan saya. Tapi apa yang saya dapatkan? Dia malah pergi ke padang gurun meratapi nasibnya, berubah menjadi laki-laki cengeng dan lemah. Bahkan tidak mau makan barang sesuappun. Bisakah kalian bayangkan apa yang saya rasakan? Saya kehilangan semuanya. Saya bahkan kehilangan sosok pria yang dulu selalu kuat menghadapi cobaan apapun. Saya benar-benar ditinggalkan sendirian.

Sekarang, seluruh keluarga saya meminta saya pulang. Apa lagi yang bisa saya harapkan dari pria lemah penuh borok bernanah itu? Ayah ibu saya menyuruh saya kembali ke rumah. Mereka bilang saya tidak perlu ikut-ikut menanggung dosa yang diperbuat suami saya. Maka saya pun pulang ke rumah orang tua saya. Saya tidak pergi bersama laki-laki lain. Saya hanya kembali ke rumah ayah dan ibu yang melahirkan saya. Namun tiba-tiba seluruh dunia menghakimi saya. Saya dibilang perempuan tak tau diri, tidak setia, cuma mau enaknya saja, dan gila. Sekonyong-konyong saya menjadi perempuan terjahat di seluruh dunia.

Saya tidak peduli kalian semua bilang apa. Kalian tidak pernah berada di posisi saya. Terserahlah. Saya berdoa supaya apa yang saya alami tidak dialami perempuan lain di dunia ini. Cukup saya sajalah yang merasakannya.

Hanielweg 21, kontemplasi tanpa kloset

Yudas

Thursday, June 16, 2011 at 12:56am

Saya Yudas. Sumpah demi Ustad Abu dan Nunun Daradjatun saya ini lelaki tulen. Banyak yang menuduh saya maho karena kebiasaan saya mencium pipi laki-laki. Tapi percayalah, biarpun gunung-gunung beranjak dan bukit-bukit bergoyang, saya lebih memilih Dewi Persik ketimbang Saiful Jamil.

Selama 30 tahun hidup saya, tak kurang dari 69 laki-laki pernah saya cium pipinya. Bagi saya tidak ada yang aneh dengan itu. Kebiasaan ini mungkin aneh di tempat lain, tapi di tempat kelahiran saya Galilea, hal ini menunjukkan kedekatan kita dengan seseorang. Karena hanya sahabatmu sajalah yang pantas mendapatkan ciumanmu. Jadi saya heran ketika banyak yang mempersalahkan saya karena mencium laki-laki dari Nazareth itu. Semua bilang saya palsu, munafik, pengkhianat. Saya heran mengapa orang menyalahkan saya karena mencium laki-laki yang saya hormati.

Saya mengenal laki-laki itu tiga tahun yang lalu. Waktu itu saya berumur 27 tahun dan sudah berencana untuk menikah dengan wanita yang saya cintai. Wanita ini sahabat Martha teman saya, seorang wanita bijak yang diimpikan banyak lelaki di kampung saya. Namun, rencana pernikahan saya batal karena saya memutuskan pergi bersama laki-laki itu. Orangtua saya marah dan kecewa atas keputusan yang saya ambil. Bagaimana mungkin saya bisa meninggalkan wanita cantik calon isteri saya dan pergi bersama laki-laki yang baru saya kenal? Hipnotis apa yang begitu kuat meracuni akal sehat saya hingga saya tega meninggalkan ayah, ibu, dan adik-adik saya, juga semua kambing domba ayah saya yang terhitung banyak di Galilea? Ya, ayah saya orang yang cukup terpandang di kampung saya. Kami memang bukan orang kaya, tapi dibanding tetangga-tetangga kami, kehidupan kami jauh lebih baik.

Tapi saya sudah memilih jalan hidup saya. Saya terpesona pada laki-laki itu. Dia begitu berkuasa. Banyak yang bilang laki-laki itu tukang sihir. Karena suatu kali dalam perjalanan kami ke Kana, dia menyihir air menjadi anggur. Tidak itu saja, dia juga menyihir segenggam roti menjadi makanan yang tak habis-habis buat lima ribu orang. Sungguh, saya melihat dengan mata kepala saya sendiri. Dia bisa sihir!

Mungkinkah sihirnya itu yang merusak akal sehat saya? Saya tidak tahu. Yang jelas lelaki itu begitu baik pada saya. Bersama dia saya bertemu dengan teman-teman baru saya. Saya berkenalan dan mengangkat saudara dengan sebelas laki-laki bau dan bodoh yang kebanyakan adalah bekas nelayan yang jarang mandi.

Mungkin karena diantara yang lain saya dianggap paling pintar, saya dipilih memegang keuangan. Tiap hari saya diwajibkan menulis berapa uang masuk dan keluar dari dana yang kami punya. Pernah suatu kali saya sakit sehingga tidak bisa menulis laporan keuangan, dia menyuruh Petrus sementara menggantikan tugas saya. Tapi apa jadinya? Nelayan bau itu salah menjumlahkan 12.500 dan 2.350 menjadi 15.320. Tidak bisa disalahkan memang, karena untuk menghitung 3 x 4 saja dia butuh waktu 27 menit! Jadi saya tau mengapa saya dipilih untuk memegang uang kas. Karena tanpa saya, kami tidak bisa apa-apa. Dia butuh saya.

Tiga tahun saya memegang uang kas tak pernah terbersitpun di benak saya untuk korupsi. Maaf saja, meskipun umur dan tampang saya mirip Gayus, saya haram mengambil apa yang bukan hak saya. Ayah saya mengajarkan untuk berlaku jujur. Makanya saya heran mengapa orang-orang menyalahkan saya karena menerima uang dari para pendeta itu. Saya tidak pernah meminta.

Seperti biasa saya pergi ke Yerusalem untuk membeli perbekalan makan kami. Saya didatangi para pendeta yang meminta saya mencium orang yang paling saya hormati di antara dua belas laki-laki di dalam kelompok setibanya nanti dari Yerusalem. Jelaslah, saya mencium laki-laki itu. Saya sangat menghormatinya. Tak perlu diberi uangpun saya akan senang hati mencium laki-laki yang sudah saya anggap abang sendiri itu. Saya bahkan tidak perlu uang dari para pendeta itu. Untuk apa? Saya tidak perlu kemewahan. Bisa terus bersama laki-laki itu saja sudah merupakan kebahagiaan buat saya.

Jadi sungguh saya tidak pernah menyangka jika ciuman saya membawa petaka bagi lelaki yang saya hormati itu. Saya tidak bermaksud mengkhianatinya. Justru sayalah yang dikhianati. Saya dijebak para pendeta itu. Saya cuma orang kampung yang tidak mengerti politik. Para pendeta itu seumuran ayah saya, dan saya ingat salah satu dari mereka dulu yang mendoakan saya waktu saya hendak disunat. Para pendeta itu juga yang dulu mendoakan kambing domba ayah saya supaya bertambah banyak dan sehat. Jadi, saya tidak menyangka akan seperti ini.

Saya tidak berusaha membela diri. Karena bagaimanapun, sayalah orang yang paling kehilangan atas matinya laki-laki bijak itu. Laki-laki itu telah begitu baik mempercayakan saya memegang uangnya. Laki-laki itu pula yang menjadi orang pertama dan satu-satunya yang mau mencuci kaki bau saya.

Saya juga merasa kehilangan, bahkan jauh lebih besar dari kalian semua.

(beberapa jam kemudian, Yudas ditemukan tewas bunuh diri)

Hanielweg 21, kontemplasi tanpa kloset

Martha, sabar ya sayang

Sunday, June 12, 2011 at 6:35pm

Dunia ini memang aneh. Justru si pemalas yang seringkali disukai dan mendapatkan pujian. Hei Tuhan, cepatlah Kau datang dan akhiri semua keanehan ini! 

Perempuan itu bernama Martha, usianya kurang lebih 25 tahun. Dia tidak mengenyam pendidikan yang tinggi. Tapi orangtuanya mengajarkan kepadanya bagaimana menjadi istri dan ibu yang baik. Dia cantik, cerdas, rajin, bersih, dan jago memasak.

Adiknya bernama Maria. Usianya dua tahun lebih muda dari Martha. Dia perempuan yang sangat menarik. Tiap kali tertawa deretan gigi putihnya nampak indah. Dia cantik, wangi, dan sangat ramah. Sayangnya tangannya terlalu halus untuk melakukan pekerjaan rumah. Dia bahkan tidak bisa menyapu ataupun memasak, tapi dia baik.

Tiga hari yang lalu mereka mendapat kabar jika si tukang kayu tampan itu akan berkunjung ke rumah mereka. Teman masa kecil mereka Yudas yang memberitahu mereka. Jadi, inilah hari besar itu. Hari ini sang tamu agung akan datang. Martha telah bangun sejak pagi dan berbelanja ke pasar. Dia beli ayam, daging babi, daun ubi, dan kopi sidikalang untuk menyambut tamu agung itu. “Aku akan memasak makanan terenak untuk dia”

Lain Martha, lain pula Maria. Hari ini Maria mandi dua kali lebih lama dari biasanya. Dia pakai baju putih favoritnya. Dia berdandan 30 menit lebih lama dari biasanya. Dan kali ini, dia memakai parfum meskipun tidak sedang keluar rumah, padahal biasanya Maria memakai CK One-nya hanya jika keluar rumah, karena sebenarnya tanpa parfum pun, tubuh cantiknya itu sudah wangi.

Akhirnya tamu agung yang ditunggu itu datang. Martha dan Maria menyambut pria yahudi yang konon pernah mengobrak-abrik pasar di depan gereja itu dengan senang. Si centil Maria segera bergelayut manja di lengan tukang kayu berperut sixpack itu. Martha ke dapur mempersiapkan makanan.Sekarang sudah jam dua siang, pria tampan itu cuma sarapan roti tadi pagi, sekarang pastinya dia lapar.

Di dapur Martha menanak nasi yang paling harum, memasak ayam goreng sambel ati, merebus daun ubi tumbuk, dan memanaskan saksang yang sudah disiapkannya sejak pagi. Tidak lupa dia menyiapkan kopi sidikalang kegemaran lelaki pujaannya itu. Dia bersenandung kecil karena gembira membayangkan pria tampan itu memakan puas semua masakannya.

Kemana adiknya? Si centil yang selalu keasinan tiap kali memasak nasi goreng itu malah asik haha hihi di depan tamu agung itu. Dia bahkan tidak memberikan handuk basah kepada pria itu, padahal wajah si tampan sudah keringatan dan terlihat lelah. ”Maria, sini bantu aku” kata Martha. “Daripada cuma tepe tepe ga jelas, mending kamu bawa kopi ini ke depan” 

Tapi dunia memang aneh. Tamu agung itu justru memarahi Martha karena menyuruh adiknya membantunya di dapur. Bukankah Martha cuma mau mengajarkan adiknya itu bagaimana menjadi perempuan yang baik? Perempuan harus mampu melayani suaminya kelak, bukan cuma mengandalkan wajah cantik saja. Lagian, apa sih hebatnya cantik? Kau bahkan tidak perlu melakukan apa-apa untuk menjadi cantik. Kau hanya perlu gen bagus dari ayah dan ibumu, dan kau akan terlahir cantik. Tapi apakah itu cukup? Wajah cantik dan kulit putih tidak dapat mengenyangkan perut yang lapar. Itu hanya dapat kau banggakan saat masa pacaran.

Jadi kenapa Martha dimarahi? Ataukah jangan-jangan tukang kayu tampan itu sama seperti lelaki ababil kebanyakan? Terlena dengan kecantikan dan kemanjaan seorang perempuan? Martha lah tipe ideal untuk dijadikan istri. Dia rajin, cerdas, setia, dan bisa masak. Okelah dia tidak seputih Maria, tapi dia juga tidak terlalu hitam. Lagian apa hebatnya putih dibandingkan hitam? Janganlah gara-gara iklan Tje Fuk semua perempuan berlomba-lomba ingin menjadi putih.

Maria, bantulah kakakmu — Martha, sabar ya sayang. Kamu ga salah..

Hanielweg 21, kontemplasi tanpa kloset

Agama itu pembunuh!

Tuesday, May 17, 2011 at 10:35pm

Bohong besar kalau ada yang bilang agama membawa perdamaian. Sejarah mencatat, pembunuhan umat manusia terbesar disebabkan oleh agama. Manusia saling bunuh, bangsa saling berperang, kota-kota dihancurkan karena agama. Manusia berpikir mereka membunuh untuk membela Tuhannya. Padahal, kalau Dia benar-benar Tuhan, maka Dia tidak perlu dibela.

Agama hanya membawa perpecahan. Pembunuhan pertama manusia yang dicatat di Taurat juga disebabkan tradisi persembahan kepada Tuhan -yang lagi lagi adalah rutinitas keagamaan-. Tuhan mau dan senang disembah, tapi pada kenyataannya, menurut Kitab Taurat, Dia memilih-milih persembahan yang akan diterimaNya. Persembahan yang satu diterima sementara yang lain ditolak. Yang diterima senang dan merasa hebat, sedangkan yang ditolak menjadi marah dan kecewa karena ketulusan hatinya ternyata tidak dipandang oleh Tuhannya. Maka terjadilah, si tertolak membunuh si terterima. Agama melakukan pembunuhan pertamanya.

Maka begitulah, dimana ada yang pertama maka ada yang kedua, ketiga, keempat, keseratus, dan hingga hari ini entah sudah berapa banyak nyawa yang melayang karena agama. Herannya, mereka yang mengaku berasal dari Tuhan yang samapun saling membunuh karena perbedaan prinsip. Entah prinsip mana yang mengakibatkan Kristen dan Katholik yang mengakui Yesus sebagai Tuhan saling bunuh. Entah prinsip mana pula hingga Islam Sunni dan Shia yang sama-sama mengakui Muhammad sebagai Nabinya juga tak henti hentinya berperang dan membunuh satu sama lain. “Kami membela Tuhan kami!” Oh, kalau saja Dia benar-benar Tuhan, maka Dia tidak perlu dibela.

Jika mereka yang mengaku berTuhan sama saja saling membunuh, maka jangan ditanya mereka yang jelas-jelas berbeda Tuhan. Israel membunuh Palestina, Palestina membunuh Israel. Yahudi membunuh Islam, Islam membunuh Yahudi. Taliban merayakan kematian ribuan warga Amerika dalam tragedi 9/11. Sebaliknya ribuan warga Amerika merayakan eksekusi mati Osama bin Laden. Semua merasa melakukan hal yang benar. “Kami benar, mereka salah. Karena mereka salah, maka mereka pantas mati. Kami sedang membela Tuhan kami”.

Luar biasanya, semua kitab suci agama-agama dengan jelas menyatakan bahwa proses saling bunuh ini memang sudah ditetapkan dari semula. Siapa yang menetapkan? Tuhankah? Agamakah? Saya tidak mau menyembah Tuhan yang senang membunuh. Jadi saya tidak percaya Tuhan yang menetapkan pembunuhan-pembunuhan ini. Pembunuhan atas nama agama, kata Taurat, baru akan berhenti saat bumi berhenti berputar. Oh, mungkinkah Tuhan yang maha pengampun itu tega melihat manusia-manusia ciptaannya saling bunuh?

Saya tidak mau membela Tuhan. Karena sekali lagi, kalau Dia memang benar-benar Tuhan, maka Dia tidak perlu dibela. Ada berapa Tuhan di dunia ini? Satu? Dua? Tiga? Seribu? Tuhan, mungkinkah Dia menikmati tontonan saling bunuh ini? Merasa terhiburkah Dia melihat para manusia saling bunuh, seakan-akan sedang membelaNya, sementara Dia yang sedang dibela sama sekali tidak merasa terancam.

Agama berarti penaklukkan. Dua agama terbesar di dunia saat ini disebarkan melalui ancaman dan penaklukkan. “Barang siapa yang tidak mau tunduk terhadap agamaku, maka dia harus mati. Karena orang-orang yang tidak percaya adalah pendosa, maka membunuh para pendosa bukanlah dosa. Kami hanya membela Tuhan kami”.

STOP MEMBELA TUHAN. DIA CUKUP BESAR UNTUK MEMBELA DIRINYA SENDIRI

Hanielweg 21, kontemplasi tanpa kloset

Negeri celana dalam

Thursday, June 2, 2011 at 10:17pm

Hari ini saya baru saja ikut diskusi ekonomi yang diadain PPI Berlin bekerjasama dengan KBRI. Temanya tentang masa depan ekonomi Indonesia. Well, Saya tertarik ikut karena salah satu pembicara dalam diskusi ini adalah Faisal Basri, tokoh yang namanya sering saya baca di koran dan tulisan-tulisannya di Kompas selalu menggelitik untuk dibaca.

Tampil sangat sederhana -baju batik, tas ransel dan sandal- Faisal Basri mulai memaparkan fakta-fakta terkini ekonomi makro di Indonesia. Banyak angka menunjukkan hasil yang sangat baik. Pertumbuhan ekonomi Indonesia secara umum meningkat, utang luar negeri menurun, jumlah pengangguran berkurang, dan penduduk usia produktif bertambah (hal ini menurut Faisal merupakan modal bagi bangsa Indonesia untuk “pasang gigi tinggi” melaju kencang di bidang ekonomi). Saya setuju dengan angka-angka yang dipaparkan Faisal, karena siapalah saya yang mempertanyakan kevalidan angka-angka statistik itu. Lagipula bukan kapasitas saya mendebat angka.

Yang menarik, Faisal juga mengakui bahwa terlepas dari jumlah orang miskin berkurang dan jumlah orang kaya bertambah, masalah utama pembangunan ekonomi Indonesia sebenarnya adalah masalah pemerataan. Kita tau ada beberapa daerah di Indonesia yang ditinggali oleh orang-orang kaya, sebut saja Pondok Indah, Menteng, Kemang dsb-nya yang jika penghasilan orang-orang yang tinggal di sana dirata-ratakan, maka jumlahnya dipastikan lebih besar dari penghasilan rata-rata warga di Singapura. Sebaliknya, banyak juga daerah di Indonesia merupakan wilayah miskin yang jika penghasilan penduduk di daerah itu dirata-ratakan menjadi lebih kecil dari negara termiskin di Afrika.

Ada yang salah dengan pemerataan!

Terlepas dari keyakinan Faisal Basri akan masa depan cerah Indonesia -yang menurut survei terbaru BBC adalah surga bagi kaum entrepreneur dan sangat bersahabat terhadap iklim investasi- saya sebagai pendatang baru di Jerman melihat fakta bahwa tingkat keterkenalan bangsa kita di Jerman masih kalah dibandingkan dengan Bangladesh dan Pakistan. Menyesakkan memang jika kenyataannya bangsa kita yang besar ini kalah terkenal dengan Bangladesh dan Pakistan yang tidak seberapa itu. Kenapa? Simpel saja, orang Jerman mengenal Bangladesh dan Pakistan dari produk yang mereka hasilkan. Apa itu? Seprei..!! Tau seprei kan? Itu loh, yang jadi alas tempat tidur!

Ya, saya baru ngeh setelah masuk ke beberapa pusat perbelanjaan di Jerman. Tiap kali masuk ke area Seprei, hampir dipastikan bahwa seprei yang didisplay adalah ‘Made in Bangladesh’ atau ‘Made in Pakistan’. Konsumen Jerman paham betul dengan kualitas seprei negara tetangga kita itu. Di otak mereka, kalau mau beli seprei nyaman, carilah produk Bangladeh atau Pakistan. Simple, Bangladesh dan Pakistan dikenal karena kemampuan mereka membuat seprei yang bagus.

Bagaimana dengan Indonesia? Saya hampir kehabisan akal mempromosikan Indonesia di kelas International Economics kepada Profesor saya. Setiap ada kesempatan, saya selalu berusaha mempromosikan Indonesia lebih hebat secara ekonomi dibandingkan Bangladesh dan Pakistan. Namun kenyataannya berkata sebaliknya. Saya tidak membahas ekonomi makro, karena pastilah Faisal lebih berkompeten dibandingkan saya. Namun dari kaca mata awam, tingkat keterkenalan kita memang kalah dibandingkan Bangladesh atau Pakistan.

Coba jawab, produk khas apa yang asli Indonesia yang diekspor ke pasar luar negeri? Batik? Tidak. Sekarang orang lebih mengenal batik buatan Cina. Baju? Coba sebut merk baju apa yang diklaim merk asli Indonesia? Atau produk lain? Apa? Payung? Peniti? Batere? Pulpen? Tidak Ada!

Indonesia sekali lagi tidak punya sesuatu yang khas yang bisa ditawarkan ke luar negeri. Jadi bagaimana bangsa kita ini bisa dikenal? Dulu kita bangga bisa bikin pesawat, tapi sekarang coba pikirkan, siapa sih yang pake pesawat buatan Indonesia? Jangankan maskapai asing, maskapai domestik seperti Merpati saja pun lebih percaya pada produk buatan Cina yang kualitasnya tidak lebih baik dibandingkan pesawat buatan Habibie dulu. (Lihat saja berita, betapa seringnya pesawat buatan Cina itu jatuh). Kita pernah sok-sokan bikin Mobil (walaupun kenyataannya mobil Timor diproduksi Korea) tapi kita ngga ada apa-apanya dibandingkan Proton buatan Malaysia. Entah kenapa, kita terlalu pusing mau jadi ahli di segala bidang. Tidak ada kekhususan yang bisa kita tawarkan buat dunia ini. Padahal kalau mau dikenal, tidak perlu repot-repot membuat pesawat atau mobil, cukuplah ciptakan kekuatan pada produk-produk sederhana. Contohnya seperti seprei di Bangladesh.

Indonesia semestinya bisa fokus menciptakan produk sederhana namun berkualitas. Banyak negara yang fokus pada satu kualitas produk dan akhirnya dikenal karena kekhususannya itu. Sebut saja Swiss dengan jam tangannya, Jepang dengan kamera fotonya, Amerika dengan pesawatnya, dan yang tadi sudah saya sebut Bangladesh dengan sepreinya.

Tidak perlu muluk-muluk ingin menjadi negara industri. Kenyataan hari ini mengatakan bahwa di dunia luar, selain karena Bali, Indonesia hanya dikenal karena aksi terorisnya. Padahal jika saja kita mau serius menciptakan satu produk nasional yang bermutu, bukan tidak mungkin nama bangsa kita lebih harum di luar negeri.

Tidak perlu pusing memikirkan produk yang ribet. Mari berpikir sederhana. Misalkan saja kita membuat produk celana dalam yang berkualitas dunia. Jika hal ini terjadi, maka Indonesia akan dikenal sebagai bangsa celana dalam, bukan dalam arti yang negatif, namun dalam arti yang positif. Bangsa kita akan dikenal sebagai penghasil celana dalam dengan kualitas terbaik di seluruh dunia. Seperti halnya orang Jerman bangga menggunakan seprei dari Bangladesh, maka orang-orang juga akan bangga mengenakan celana dalam ‘Made in Indonesia’

Indonesia tidak lagi dikenal sebagai negeri tempat teroris, karena kepala para teroris itu sudah kita tutup dengan celana dalam. Indonesia adalah surga celana dalam. Kenapa tidak?

INDONESIA BISA

Hanielweg 21, kontemplasi tanpa kloset