Tuesday, May 17, 2011 at 10:35pm
Bohong besar kalau ada yang bilang agama membawa perdamaian. Sejarah mencatat, pembunuhan umat manusia terbesar disebabkan oleh agama. Manusia saling bunuh, bangsa saling berperang, kota-kota dihancurkan karena agama. Manusia berpikir mereka membunuh untuk membela Tuhannya. Padahal, kalau Dia benar-benar Tuhan, maka Dia tidak perlu dibela.
Agama hanya membawa perpecahan. Pembunuhan pertama manusia yang dicatat di Taurat juga disebabkan tradisi persembahan kepada Tuhan -yang lagi lagi adalah rutinitas keagamaan-. Tuhan mau dan senang disembah, tapi pada kenyataannya, menurut Kitab Taurat, Dia memilih-milih persembahan yang akan diterimaNya. Persembahan yang satu diterima sementara yang lain ditolak. Yang diterima senang dan merasa hebat, sedangkan yang ditolak menjadi marah dan kecewa karena ketulusan hatinya ternyata tidak dipandang oleh Tuhannya. Maka terjadilah, si tertolak membunuh si terterima. Agama melakukan pembunuhan pertamanya.
Maka begitulah, dimana ada yang pertama maka ada yang kedua, ketiga, keempat, keseratus, dan hingga hari ini entah sudah berapa banyak nyawa yang melayang karena agama. Herannya, mereka yang mengaku berasal dari Tuhan yang samapun saling membunuh karena perbedaan prinsip. Entah prinsip mana yang mengakibatkan Kristen dan Katholik yang mengakui Yesus sebagai Tuhan saling bunuh. Entah prinsip mana pula hingga Islam Sunni dan Shia yang sama-sama mengakui Muhammad sebagai Nabinya juga tak henti hentinya berperang dan membunuh satu sama lain. “Kami membela Tuhan kami!” Oh, kalau saja Dia benar-benar Tuhan, maka Dia tidak perlu dibela.
Jika mereka yang mengaku berTuhan sama saja saling membunuh, maka jangan ditanya mereka yang jelas-jelas berbeda Tuhan. Israel membunuh Palestina, Palestina membunuh Israel. Yahudi membunuh Islam, Islam membunuh Yahudi. Taliban merayakan kematian ribuan warga Amerika dalam tragedi 9/11. Sebaliknya ribuan warga Amerika merayakan eksekusi mati Osama bin Laden. Semua merasa melakukan hal yang benar. “Kami benar, mereka salah. Karena mereka salah, maka mereka pantas mati. Kami sedang membela Tuhan kami”.
Luar biasanya, semua kitab suci agama-agama dengan jelas menyatakan bahwa proses saling bunuh ini memang sudah ditetapkan dari semula. Siapa yang menetapkan? Tuhankah? Agamakah? Saya tidak mau menyembah Tuhan yang senang membunuh. Jadi saya tidak percaya Tuhan yang menetapkan pembunuhan-pembunuhan ini. Pembunuhan atas nama agama, kata Taurat, baru akan berhenti saat bumi berhenti berputar. Oh, mungkinkah Tuhan yang maha pengampun itu tega melihat manusia-manusia ciptaannya saling bunuh?
Saya tidak mau membela Tuhan. Karena sekali lagi, kalau Dia memang benar-benar Tuhan, maka Dia tidak perlu dibela. Ada berapa Tuhan di dunia ini? Satu? Dua? Tiga? Seribu? Tuhan, mungkinkah Dia menikmati tontonan saling bunuh ini? Merasa terhiburkah Dia melihat para manusia saling bunuh, seakan-akan sedang membelaNya, sementara Dia yang sedang dibela sama sekali tidak merasa terancam.
Agama berarti penaklukkan. Dua agama terbesar di dunia saat ini disebarkan melalui ancaman dan penaklukkan. “Barang siapa yang tidak mau tunduk terhadap agamaku, maka dia harus mati. Karena orang-orang yang tidak percaya adalah pendosa, maka membunuh para pendosa bukanlah dosa. Kami hanya membela Tuhan kami”.
STOP MEMBELA TUHAN. DIA CUKUP BESAR UNTUK MEMBELA DIRINYA SENDIRI
Hanielweg 21, kontemplasi tanpa kloset