Saya tidak gila

Thursday, June 23, 2011 at 10:57am

Saya benci penulis kisah Ayub. Dia menulis cerita soal Ayub tanpa pernah minta klarifikasi dari saya. Seakan-akan saya adalah perempuan paling jahat yang pernah dilahirkan di dunia ini. Ini ga fair! Semua orang menuduh saya jahat tanpa pernah tau apa yang sebenarnya saya rasakan.

Saya istri Ayub!

Ya, sayalah perempuan yang selalu dijelek-jelekkan para pendeta dalam khotbah minggu mereka. Saya tidak menyalahkan para pendeta sok pintar itu, karena mereka cuma omongin apa yang mereka baca di buku Ayub. Saya mau protes penulis buku itu. Tapi saya tidak yakin dia itu siapa. Ada yang bilang Musa ada juga yang bilang Andrea Hirata. Pokoknya saya benci orang itu. Penulis kampung! Mestinya dia minta klarifikasi dari saya sebelum menilai saya atas perbuatan yang saya lakukan. Saya dipojokkan tanpa pernah diberi kesempatan membela diri.

Sayalah istri Ayub yang kalian bilang saleh itu. Saya perempuan yang sudah melahirkan sepuluh anak bagi dia. Kalian pikir merawat dan membesarkan sepuluh orang anak itu gampang? Waktu saya dan Ayub menikah dulu, kami tidak punya apa-apa. Kami bukan orang kaya. Suami saya cerdas, tapi bukan orang kaya. Sayalah yang pertama kali membelikan dia sepasang domba untuk diternakkan. Ya, saya merelakan menjual mas pemberian ibu saya sebagai modal kami membeli domba.

Seperti yang saya bilang, suami saya memang cerdas. Dia benar-benar yahudi yang pintar dagang. Dia juga pelit. Semua dihitung untung ruginya. Selama lima tahun pertama pernikahan kami, kami tak pernah makan daging. Kami hidup prihatin. Suami saya selalu membatasi apa yang boleh kami makan. Boro-boro makan di restoran mewah, minum susupun saya tak pernah. Suami saya selalu bilang, saatnya akan datang kami akan menikmati hasil jerih payah kami. Dan saya selalu sabar menantikan saat itu tiba.

Saya tidak perlu menceritakan lika-liku kehidupan kami yang suram. Kecerdasan suami saya disokong dengan dukungan saya sebagai istri mulai membuahkan hasil. Dalam waktu lima tahun, sepasang domba yang saya beli itu berlipat ganda menjadi 150 ekor. Bukan bukan. Domba kami itu bukan beranak pinak. Tiga bulan setelah saya memberikan Ayub domba, dia menjual domba-domba itu, lantas membeli empat pasang anak domba yang kecil dan mulai menggembalakannya. Begitu seterusnya. Setiap ada kesempatan membeli anak domba dengan harga murah, suami saya lalu menjual induk domba yang besar dan menukarnya dengan anak domba yang lebih banyak.

Tiga puluh tahun saya setia mendampingi suami saya. Usahanya mulai berhasil. Ternak kami semakin banyak dan kami mulai mempekerjakan orang-orang. Kami juga mulai membeli tanah dimana-mana. Kami membangun rumah yang sangat besar. Ya, seperti janji suami saya waktu itu, saat itupun akhirnya tiba. Kami mulai menikmati hasil kerja keras kami. Ayub menjadi besar. Menjadi orang terkaya di seluruh negeri. Dan taukah kalian siapa perempuan dibalik kesuksesan Ayub? Saya! Sayalah perempuan itu, yang bahkan namanya tidak pernah ditulis di kitab Ayub karena dianggap tidak penting! Benarkah saya tidak penting?

Pernahkah kalian berpikir apa yang saya rasakan waktu mengetahui anak-anak saya mati?? Bukan! Saya tidak pernah sedih karena Ayub jatuh miskin. Tidak, karena waktu saya memutuskan menikah dengannya pun dia bukanlah orang kaya. Saya tidak peduli harta kami habis. Bukan itu yang membuat saya bersedih. Kematian anak-anak sayalah yang mendukakan hati saya.

Tidak lama setelah badai dahsyat itu, keluarga saya berkata pada saya bahwa kematian anak-anak saya adalah karena dosa Ayub. Mereka bilang kematian anak-anak saya sebagai korban pesugihan suami saya. Mereka bilang Ayub bersekutu dengan setan untuk memperoleh kekayaaan. Saya tidak percaya itu semua! Semua itu bohong! Saya tidak percaya suami saya tega mengorbankan anak-anaknya untuk memperoleh kekayaan!

Satu hal yang sempat terlintas di otak saya adalah suami saya mempunyai wanita lain. Saya memang tidak pernah memergokinya, tapi feeling saya mengatakan demikian. Sering memang suami saya pergi keluar kota berminggu-minggu dengan alasan berbisnis. Tak jarang, setiap pulang dari luar kota saya mencium bau parfum wanita di pakaiannya. Tapi kecurigaan itupun saya kubur dalam-dalam, karena biar bagaimanapun saya sangat mencintai ayah anak-anak saya itu. Saya mau mempercayainya 100%.

Tapi kemudian apa yang terjadi? Tiba-tiba Tuhan menghukum kami. Dalam satu hari semua harta kami habis diserang perampok. Ribuan ternak kami dijarah dan pekerja-pekerja kami dibunuh. Sedihkah saya? Ya, tentu saya sedih. Tapi saya tidak menyerah. Saya tetap percaya pada suami saya.

Namun musibah ini tak berhenti sampai disitu. Angin topan datang dan menghancurkan rumah kami. Beserta anak-anak saya di dalamnya. Semua anak saya mati tertimpa rumah beton kami. SEMUA! Bisakah kalian bayangkan betapa hancurnya hati seorang ibu melihat anaknya mati mendahului dia? Semua ibu pasti menginginkan dialah yang duluan mati sebelum anaknya, karena sangat menyedihkan bagi seorang ibu meratapi buah susunya sendiri. Itulah yang saya rasakan. Bukan cuma satu, tapi sepuluh anak saya mati pada hari yang sama. Bahkan menaburkan seluruh debu Israel di kepala saya belum cukup menggambarkan betapa besar duka yang saya alami.

Di tengah kesedihan saya dimanakah suami saya? Dia meninggalkan saya. Dia pergi entah kemana dengan seluruh bisul dan borok yang tiba-tiba saja muncul di tubuh terkutuknya itu! Saat itulah entah mengapa saya tiba-tiba percaya apa yang dikatakan keluarga saya. Suami saya dihukum Tuhan karena segala dosanya. Dan saya mulai percaya, dia dihukum Tuhan karena menghianati saya dengan wanita lain.

Seluruh tubuh suami saya ditumbuhi borok bernanah. Benar-benar bau dan menjijikkan! Saya coba menduga dosa sebesar apakah yang telah diperbuat suami saya hingga Tuhan demikian marah dan menghukumnya? Sebagai istri dan ibu yang baru kehilangan, saat itu sebenarnya saya memerlukan suami saya untuk menguatkan saya. Tapi apa yang saya dapatkan? Dia malah pergi ke padang gurun meratapi nasibnya, berubah menjadi laki-laki cengeng dan lemah. Bahkan tidak mau makan barang sesuappun. Bisakah kalian bayangkan apa yang saya rasakan? Saya kehilangan semuanya. Saya bahkan kehilangan sosok pria yang dulu selalu kuat menghadapi cobaan apapun. Saya benar-benar ditinggalkan sendirian.

Sekarang, seluruh keluarga saya meminta saya pulang. Apa lagi yang bisa saya harapkan dari pria lemah penuh borok bernanah itu? Ayah ibu saya menyuruh saya kembali ke rumah. Mereka bilang saya tidak perlu ikut-ikut menanggung dosa yang diperbuat suami saya. Maka saya pun pulang ke rumah orang tua saya. Saya tidak pergi bersama laki-laki lain. Saya hanya kembali ke rumah ayah dan ibu yang melahirkan saya. Namun tiba-tiba seluruh dunia menghakimi saya. Saya dibilang perempuan tak tau diri, tidak setia, cuma mau enaknya saja, dan gila. Sekonyong-konyong saya menjadi perempuan terjahat di seluruh dunia.

Saya tidak peduli kalian semua bilang apa. Kalian tidak pernah berada di posisi saya. Terserahlah. Saya berdoa supaya apa yang saya alami tidak dialami perempuan lain di dunia ini. Cukup saya sajalah yang merasakannya.

Hanielweg 21, kontemplasi tanpa kloset

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s